Yapp, ini adalah artikel review pertama saya yang barangnya saya miliki sendiri :D.
Perlu saya tekankan bahwa saya bukanlah reviewer professional. Saya hanya
pengguna rumahan, yang mereviewnya jelas untuk kebutuhan sehari-hari. Jadi ini
menurut pendapat saya pribadi. Saya tidak dibayar untuk ini, tapi kalo ada yang
mau minjemin atau ngasih silahkan, saya terima dengan senang hati wkwkwk :p
Beli mifi ini dilatarbelakangi oleh mirisnya
kondisi kecepatan internet di rumah saya. Cuma ada 2 operator yang mendominasi,
si merah dengan kecepatan prima dan stabil serta dibarengi dengan harga yang
gak manusiawi serta kuota yang minimalis untuk pelajar. Dan satu lagi si kuning
yang baru ganti nama. 3G nya lemot parah. Sadisnya si kuning ngasih kuota 4G
berlimpah. Kalau saya punya hape 4G ya tinggal tancepin kuning selesai perkara.
Tapi hape saya yang jadul masih belum kenal sama por ji. Dan si putih mulus inipun melintas ketika lagi browsing di
online shop untuk cari referensi harga dari si putih ini..
![]() |
| ngambil dari gugel, gak sempe foto wkwk |
Ceritanya gini, lagi jalan-jalan ke mall mau represing, mampir tuh ke toko gadget
yang lumayan lengkap dan harganya lumayan murah. Ya memang nggak bisa
dibandingkan dengan di Plaza Marina atau Hi Tech Mall di Surabaya. Kalo di
JeKaTe kaya Ratu Plaza sama Mangga Dua. Awalnya saya beneran lupa soal tipe si
MiFi ini. Setelah melihat barangnya dan browsing singkat, lalu pergi dengan
alasan klasik orang yang antara jadi ato gak jadi beli “Ya, nanti saya kesini
lagi deh. Makasih ya..” jangan lupa bilang makasih, biar gak dijadiin bahan
rumpi. Setelah ‘melarikan diri ke kafe terdekat :v dan browsing-browsing
singkat tentang router ini, masalah yang saya hadapi adalah, TADI NIH BOX ROUTER
TULISANNYA BAHASA RUSIA, satu-satunya informasi yang saya dapatkan adalah nih
router merk ZTE dengan ada tulisan 90+ disamping dusnya bekas milik operator Rusia
yang tulisannya aneh, tapi setelah browsing ternyata nama operatornya cukup
unyu yaitu Beeline dibanding dengan tulisan kiril
yang susah dimengerti oleh nalar.
Setelah mengamati dan menganalisa spek dari si
mifi dan dalam hatipun saya berkata “Ah boleh juga tuh” Tapi saya tidak mau
menjadi orang yang ceroboh dan nanti akhirnya #SalahBeli yang membuat saya
menyesal pada kemudian hari. Akhirnya keliling lagi cari router, ada juga tuh
yang punyanya operator asal Indonesia yang dulu sempet gencar masarin jaringan
4G nya, itu lho si Bolot, yang udah di unlock yang ada lcd nya tuh, harganya
lebih murah 5 rebu, untung saya bukan ibu-ibu yang rela bolak-balik toko demi
membandingkan harga yang selisih 5 rebu, sedangkan kalo parker 5 rebu diem
aja.. Be a simple human, ibu-ibu…
Akhirnya saya kembali ke toko pertama dengan
kepercayaan diri yang belum sepenuhnya, entah kenapa seperti ada yang janggal.
Akhirnya saya halalkan si putih dengan merogoh kocek 530 ribu. Yaa cukup mahal
sih untuk pelajar kere(n), dibandingkan dengan operator yang menawarkan 4G LTE
Advanced1 yang mifinya 300 rebuan. Tapi balik lagi, gak ada sinyal
tuh si teman pintar.
Setelah melakukan proses pembayaran, tiba
waktunya UNBOXING. Wohohohoho, sayang sekali saya lupa membawa kamera pada
waktu itu, jadinya proses unboxing itu dilakukan secara tertutup tanpa
terekspose media. Hanya saya, mas yang jual sekaligus pemilik toko, asisten
toko, dan Tuhan yang tahu proses unboxingnya. Isi dalam boks MiFi ini cukup
simple, si putih berbaring diatas boks, lalu dibawahnya menunggu sebuah kabel
charger dan batere yang bisa dilepas. Tanpa buku manual. Disitu saya
harap-harap cemas, karena saya takut pas login di dashboard WiFinya eh alfabetnya bentuknya kursi, bisa turun eskalator
dengan sikap lilin. (walaupun saya tak yakin saya bisa melakukannya, biar
dramatis aja) terus saat batere dipasang, mifinya dinyalakan dan si pemilik
toko yang juga merangkap jadi kasir ini langsung membuka back cover dan
langsung menarik batere tanpa mematikannya sesuai SOP.
Saya langsung mimisan, gila aja nih orang, itu
barang sayah mentang-mentang udah tak beli trus jadi seenaknya gitu. Selanjutnya
ia memasang batere dan menyalakan, tapi ia baru sadar bahwa sim card nya
kebalik, di copot langsung itu batere lagi. Sekujur badan saya mulai lemas,
melihat seonggok benda yang saya beli dengan nabung susah payah digituin oleh
penjual yang tidak melakukan SOP dengan benar. Setelah menyala, penjual itu
meng-charge mifi mungil itu, dan ya. Baterainya terisi, saya coba konek dengan
hape dan berhasil. Saya lega dan meminta penjual tadi langsung memasukkannya
kedalam boks dan langsung pergi..
Curhatnya udah, sekarang masuk ke review.
ZTE MF90+ adalah si putih mulus, emang beneran
putih bersih banget dan wangi, dilengkapi dengan 3 lampu indikator 1
tombol power dan WPS, apalagi dilengkapi batere 2300mAh yang tahan 10 jam an di
4G si kuning. Tapi saking putihnya si MF90+ ini gampang ‘ternodai’ dengan
keringat sehingga putihnya hilang, plus doi ini licin banget. Hal ini
disebabkan oleh materialnya yang emang plastik keseluruhan dengan ujung
membulat yang gak hand-able banget. Cocoknya buat ditaruh dimeja, bukan buat
dipegang-pegang. Eh.
Berikut adalah spek singkat si MF90+
*LTE-FDD2 800/1800/2100/2600MHz (tidak support FDD 900 Telkomsel)
*LTE-TDD3 2300(2600)MHz* UMTS 850/900/1900/2100MHz
*EGPRS/GSM
850/900/1800/1900MHz*LTE-FDD2 800/1800/2100/2600MHz (tidak support FDD 900 Telkomsel)
*LTE-TDD3 2300(2600)MHz* UMTS 850/900/1900/2100MHz
*LTE-FDD: DL/UL 100/50Mbps (Category3)
*LTE-TDDL/UL 68/17Mbps (Category3)
*DC-HSPA+: DL/UL 42/5.76Mbps*2300 Removable battery
Sempat pas sampe
dirumah, saya nemu thread di Kaskus
soal nih mifi, dan saya shock bukan kepalang, ternyata pada thread itu ditulis
bahwa nih mifi gak support HAMPIR SEMUA OPERATOR GSM DI INDONESIA yang didukung
cuma teman pintar dan bolot. Saya kaget, panik dan kembali berjemur tower sutet
terdekat. Tapi saya berusaha tenang dan berfikir klinis, bahwa itu thread udah
lumayan lama, dan melihat spek jaringan hape di gsmarena. ternyata hampir
sama dengan si MF90+ kebetulan hape yang saya lihat adalah Redmi 2 Prime yang
merupakan (mantan) hape sejuta umat, dan teman saya pun pake operator kuning,
dan 4G pun bisa jalan. Akhirnya saya beli kartu si kuning ditetangga yang cukup
murah rupanya, 11 GB (1gb 3G, 10gb 4G) 28 ribu. WOW mayan. Dan speed yang
didapat begini,
Yah walaupun gak
sekenceng si merah gakpapa lah pokoknya stabil. Demikian review absurd yang
saya tulis tengah malam, dimana ide mulai bertebaran. Saking banyaknya sampe
bingung wkwk. Kalo ada yang kurang jelas, langsung tanya di kolom komen bawahh.. Babaii Happy Weekend. Ciao!
PS :
1: LTE Advanced merupakan pengembangan lanjutan dari teknologi LTE yang memungkinkan jaringan memiliki pencapaian coverage area yang lebih besar, lebih stabil dan lebih cepat. Kalau biasanya pada LTE Standard kecepatan download real mencapai 10-100 Mbps, dengan teknologi LTE Advance kecepatan tersebut meningkat menjadi 100-300Mbps. Sementara 4G+ sendiri biasa digunakan sebagai istilah lain dari LTE Advanced.
2: FDD kependekan dari Frequency Division Duplexing, cara pengantaran data menggunakan dua buah channel yang berbeda antara transmit dan receive. Metode ini juga yang dipakai sekarang di Indonesia (kecuali Bolt) dan banyak negara Asia Tenggara. Memiliki keunggulan lebih jarang terkena gangguan interferensi dan resepsi penerimaan yang baik.
3: TDD kependekan dari Time Division Duplexing, dimana data diantarkan dan diterima dalam satu channel frekuensi yang sama, hanya dengan pemisahan jeda waktu yang singkat. Keunggulan cara ini, karena pengiriman dan penerimaan data hanya menggunakan satu channel, maka kapasitas yang tersedia bisa menjadi lebih besar dibanding FDD. Sangat cocok untuk data yang dikirimkan secara asimetris, misalnya untuk browsing internet, video surveillance atau broadcast.
sumber : DetikInet


No comments:
Post a Comment