Saya Nathan Bravian. Seorang laki-laki tulen. Siswa
SMK Krian 2. Anak pertama dari 2 bersaudara. Suka bermain komputer. Suka
bergonta-ganti pasangan.
Ya, dari kalimat terakhir kalian bisa langsung
tahu bahwa saya adalah jomblo yang songong, dan mungkin itulah salah satu sebab
saya masih jomblo hingga detik ini.
Pasangan pada konteks ini adalah sebuah sistem
operasi. YAAA BENARR. Ini adalah serial lanjutan dari artikel sebelumnya.
Tentu, tidak lain dan tidak bukan. Kita akan membahas tentang Linux. Bukan
Windows karena terlalu mainstream dan MacOS karena terlalu ekstrim. HARGANYA.
Karena itulah akhirnya saya memilih untuk mencoba Linux, berikut beberapa
alasannya :
- · GRATIS. Siapa di dunia ini yang gak suka gratisan ?
- · AMAN. Orang mana yang hidupnya mau terancam terus-terusan ?
- · BERAGAM. Kita tinggal di Indonesia yang memiliki banyak keberagaman suku dan budaya, jadi apa salahnya kalo kita menggunakan OS yang seperti Indonesia. Berbeda-beda tetapi tetap satu. Banyak turunan tetapi tetap satu bapak. UNIX.
- UNIX. Ini bukan unix yang barusan, tapi ini adalah bentuk bahasa gaul (dari kata unik). Ya linux itu unix. Karena tiap os nya itu berbeda-beda cara troubleshootingnya.
- · BIKIN KEREN. Ya, ketika kita ditempat public dan liat kita pake OS yang bukan Windows, kita akan dicap sebagai hacker, bagi sebagian orang itu terlihat keren.
Ps: yang mau baca artikel tentang Indonesia
bisa cek disini :p
Ya itu adalah beberapa alasan menurut saya
sendiri. Kalau ada versi kalian, jangan lupa tulis di commentbox bawah :D.
Sebenarnya saya kembali tertarik dengan Linux
di awal bulan September lalu. Hal ini disebabkan karena saya bosan dan bosan. Sehingga
saya butuh penyegaran dari Windows, ingin ke Mac tapi mustahil, maka “pelarian”
saya adalah Linux. Sebenernya saya sudah install Kubuntu 16.04 di laptop sakti
ini. Tapi jarang saya sambangi, karena keterbatasan kuota dan waktu. Pada awal
September lalu teman saya mencoba OS linux yang bernama Solus, bukan Solusi
ataupun Terasi.
Namanya memang Solus. OS ini merupakan OS yang
independent alias tidak bergantung pada OS Linux Senior (Arch, Debian, SUSE,
Fedora). Jadi saya terus terang termasuk nekat. Karena ilmu Linux saya masih
sedikit tapi nekat mencoba OS yang bisa dibilang masih baru. Proses download
pun selesai, dan langsung buat live usb pake Rufus. Dan langsung install. Bagi
yang pake Windows 8+ jangan lupa matikan fastbootnya, biar gampang.
Ketika Live USB dimulai saya cukup excited
karena proses ini berhasil. Lanjut untuk beradaptasi, dan memberanikan untuk
install. Setelah mengisi form BPJS Username, Keyboard, Bahasa, dan Friendzone
Timezone. Tiba saatnya untuk mengatur partisi harddisk, disini yang bikin
deg-deg. Karena ternyata partisi yang saya siapkan gak terdeteksi. Akhirnya mau
tak mau, sudi tak sudi membatalkan instalasi, dan masuk ke Windows untuk format
partisi, karena saya sudah terlanjur tergesa-gesa, lupa cek kalo di Solus
ternyata ada GParted nya :v (hal ini saya ketahui baru 6 jam yang lalu). Cukup
rumit jika dijelaskan disini, mungkin di artikel selanjutnya saya akan mencoba
untuk menjelaskan secara detail untuk instalasi Linux.
Pertamanya saya kira akan betah bersama Solus,
tapi kemesraan itu hanya berlangsung kurang dari 4 hari :v. Sebelumnya saya
memakai Ubuntu 16, tapi gak berlangsung lama juga, cuma seminggu. Ganti lagi ke
Ubuntu Mate, cuma 3 hari doang. Disini cukup membuktikan bahwa saya seorang
PlayLinuxer.
Yang terakhir baru aja tadi saya pasang, adalah
openSUSE Leap 42.1. Downloadnya lamaaa banget, iso nya aja 4,3 GB. Gokilz! Yang
saya suka dari openSUSE adalah dia sangat menantang, berbeda dari yang lain.
Installernya saja cukup membuat saya bingung dan sempat harus kembali ke masa
lalu agar bisa melakukannya dengan lancar.
Untuk selengkapnya akan saya tulis di artikel
review. Jadi cukup sekian artikel special malam minggu ini. Thanks, Ciao!

kalo laptop kosongan diinstal openSUSE masih enak
ReplyDeletekalo laptop ada windows-nya ini yang malesin ngaturnya, haha
iyah rumit banget opensuse, kalo gak teliti buyar data :D
Delete